Cerdas Mencerahkan

Selasa, 20 April 2010

ANALISIS PUISI "DENGAN PUISI, AKU" KARYA TAUFIQ ISMAIL

Pendahuluan - Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama.  Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Karya-karya sastra lama yang berbentuk puisi adalah Mahabharata, Ramayana dari India yang berbentuk puisi atau kavya (kakawin) (Waluyo, 2003: 1). Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang  padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Walaupun singkat dan padat, tetapi berkekuatan. Karena itu, salah satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (rima). Kata-kata itu memiliki makna yang lebih luas dan lebih banyak (Ibid, 2003: 1).
Karya-karya agung dalam banyak kesusastraan dunia selalu memberi pencerahan. Ia mengajak kita untuk senantiasa bersikap kritis dalam menanggapi dunia sekitar kita atau merangsang pembacanya agar tumbuh kepekaan emosional ketika hakikat manusia dilecehkan. Puisi, mengingat bentuknya yang lebih padat dan ekspresif, konon paling mewakili kegelisahan emosional. Konon juga, manusia sering kali merasa lebih mudah mengungkapkan kegalauan perasaan dan pikirannya lewat puisi daripada ragam sastra yang lain (Mahayana, 2005: 259).
Puisi yang baik lazimnya menawarkan serangkaian makna kepada pembacanya. Untuk menangkap rangkaian makna itu, tentu saja pembaca perlu masuk ke dalamnya dan mencoba memberi penafsiran terhadapnya. Langkah dasar yang dapat dilakukan untuk pemahaman itu adalah ikhtiar untuk mencari tahu makna teks. Sebagai sebuah teks, puisi menyodorkan makna eksplisit dan implisit. Makna eksplisit dapat kita tarik dari perwujudan teks itu sendiri; pilihan katanya, rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata atau diksi menyodorkan kekayaan nuansa makna; rangkaian sintaksis berhubungan dengan maksud yang hendak disampaikan. Adapun makna implisit berkaitan dengan interpretasi dan makna yang meyertai di belakang puisi bersangkutan (Mahayana, 2005: 260).
 Dalam sejarah kesusastraan modern, Taufiq Ismail dikenal sebagai salah seorang tokoh Angkatan 66 yang memiliki pengaruh cukup populer dalam masyarakat. Popularitas ini tidak mungkin dapat diraih oleh Taufiq jika ia tidak memiliki karya puisi dan mempublikasikannya melalui berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Penyair yang mempublikasikan puisi pertamanya di majalah Bangkit pada tahun 1954 ini, sampai kini telah menghasilkan ratusan puisi.  Meski Taufiq telah menrbitkan banyak kumpulan puisi, dalam perkembangan terakhir ini hanya dua buku antologi puisi yang terkenal secara luas, yaitu Tirani dan Benteng  serta  Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Sayuti, 2005: 7).
Puisi “Dengan Puisi, Aku” dalam antologi puisi berjudul Tirani dan Benteng menarik untuk dianalisis maknanya karena isinya kurang lebih mengungkapkan kecintaan Taufiq Ismail terhadap puisi.  Bagi Taufiq, puisi adalah sebuah nyanyian, dan ia berniat bernyanyi sampai akhir hayat (Sayuti, 2005: 9).

2.    Puisi “Dengan Puisi, Aku”

DENGAN PUISI, AKU

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

1965
            (Tirani dan Benteng, hlm. 62)


3.    Pembahasan
Analisis yang dilakukan pada puisi “Dengan Puisi, Aku” mencakup beberapa aspek atau unsur dalam suatu puisi, antara lain: (1) jenis puisi, (2) bunyi  dan rima, (3) citraan dan (4) penafsiran puisi.
3.1 Jenis Puisi
            Puisi “Dengan Puisi, Aku” karya Taufiq Ismail ini termasuk dalam jenis puisi diaphan. Hal ini karena pembaca dapat dengan mudah mengerti maksud yang ingin disampaikan Taufiq Ismail. Walaupun menggunakan penggabungan kata-kata yang menyebabkan bahasa kias tetapi pembaca masih dapat dengan mudah menerjemahkan isi dari puisi tersebut. Berikut penggalan puisi yang menggunakan bahasa kias, tetapi masih dapat dipahami isinya oleh pembaca.      
Dengan puisi aku bernyanyi
Dengan puisi aku bercinta
Dengan puisi aku mengenang
Dengan puisi aku menangis

3.2 Bunyi dan Rima
            3.2.1 Bunyi
                        Dalam sebuah puisi, bunyi tidak hanya memperindah bacaan puisi bersangkutan. Tetapi juga dapat meciptakan gambaran dalam angan-angan pembacanya. Bunyi juga dapat menciptakan suasana, sehingga kesedihan, keterpencilan, kerisauan, dan suasana-suasana yang lain yang diharapkan dapat dirasakan oleh pembacanya dapat terpenuhi akibat pemilihan bunyi pada puisi bersangkutan (Suharianto, 2005: 22).
                        Dalam puisi “Dengan Puisi, Aku” pembaca diharapkan merasakan bagaimana kecintaan Taufiq Ismail dalam berpuisi. Karena Bagi Taufiq, puisi adalah sebuah nyanyian, dan ia berniat bernyanyi sampai akhir hayat, karena nyanyian yang indah menyenangkan pendengarnya (Sayuti, 2005:9).


3.2.2 Rima
Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi. Dalam persajakan rima dapat dibedakan menurut: bunyi dan letak dalam baris.
                        3.2.2.1 Rima Awal
Dengan puisi aku bernyanyi
.............................................
Dengan puisi aku bercinta
.............................................
Dengan puisi aku mengenang
.............................................
Dengan puisi aku menangis
............................................
Dengan puisi aku mengutuk
.........................................
Dengan puisi aku berdoa
.........................................

3.2.2.2 Rima Akhir

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
3.3 Citraan
Citraan merupakan gambaran yang timbul dalam khayal atau angan-angan pembaca puisi atau karya sastra umum. Gambaran dalam angan-angan seperti itu sengaja diupayakan oleh penyair agar hal-hal yang semula abstrak menjadi konkret, agar menimbulkan suasana khusus dan mengesankan (Suharianto, 2005 : 40). Citraan yang biasanya muncul dalam puisi antara lain: citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan gerak, dan citraan pencecapan.
3.3.1 Citraan penglihatan
            Citraan ini merupakan citraan saat penglihatan digugah untuk mencoba merasakan apa yang ingin penyair sampaikan. Dalam puisi “Dengan Puisi, Aku” tidak terdapat citraan jenis ini.
3.3.2 Citraan Pendengaran
Citraan ini merupakan citraan manakala indra pendengaran akan digugah untuk merasakan maksud yang ingin disampaikan oleh penyair. Dalam puisi “Dengan Puisi, Aku” tidak terdapat citraan jenis ini.
3.3.3 Citraan Perabaan
Citraan ini merupakan citraan yang bertujuan menggugah indra peraba, sehingga dapat merasakan maksud yang ingin disampaikan oleh penyair.
..................................
Jarum waktu bila kejam mengiris
..................................
Pembaca diharapkan merasakan seperti teriris ketika mendengar dan membaca baris puisi tersebut.
3.3.4 Citraan Penciuman
                   Citraan ini merupakan citraan yang bertujuan menggugah indra penciuman, sehingga dapat merasakan maksud yang ingin disampaikan oleh penyair.
            .........................................
            Nafas zaman yang busuk
            .........................................

3.3.5 Citraan Gerak
              Citraan jenis ini merupakan citraan yang menggambarkan gerak, atau menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak. Dalam puisi “Dengan Puisi, Aku” tidak terdapat citraan jenis ini.
3.3.6 Citraan Pencecapan
Citraan ini merupakan citraan saat pencecapan digugah untuk mencoba merasakan apa yang ingin penyair sampaikan. Dalam puisi karya Taufiq Ismail ini tidak terdapat citraan jenis ini.

3.4. Penafsiran Puisi
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Puisi ini adalah ungkapan seorang Taufiq Ismail,  puisi adalah sebuah nyanyian, dan ia berniat bernyanyi sampai akhir hayatnya, karena nyanyian yang indah dapat menyenangkan pendengarnya.
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Puisi adalah cinta, yang luas maknanya karena cinta itu universal dan bisa disampaikan melalui puisi.
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
            Puisi adalah bagian dari  keimanan, aku mengenang artinya mengingat sang Pencipta untuk Keabadian yang akan datang, untuk mengingatkan diri agar tak lekang mengenang hari akhir yang abadi.
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
            Puisi juga media untuk meratap, menangis, bila kesedihan tak tertahankan yang diakibatkan diiris oleh waktu. Ketika waktu itu terlewati dengan hal-hal yang tidak bermanfaat tentunya kita akan menyesal bagai teriris pisau.
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Puisi adalah cara mengecam kezaliman, penindasan dan kesewenang-wenangan yang terasa buruk dan busuk, sekaligus sebagai saksi dari berbagai peristiwa sejarah.
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Puisi adalah cara berdoa, cara untuk mengingat serta mendekatkan diri dengan sepenuh hati kepada Tuhan Yang Maha Pencipta.
4.      Penutup
Analisis yang dilakukan pada puisi “Dengan Puisi, Aku” mencakup beberapa aspek atau unsur dalam suatu puisi, antara lain: (1) jenis puisi, (2) bunyi  dan rima, (3) citraan dan (4) penafsiran puisi. Jenis puisi pada puisi “Dengan Puisi, Aku” karya Taufiq Ismail ini berjenis puisi diaphan karena kata-kata kias pada isi puisi mudah dipahami oleh pembacanya. Bunyi dan rima puisi “Dengan Puisi, Aku” terdapat pada penempatan rima yang khas, seperti terdapat rima awal dan rima akhir. Citraan yang digunakan dalam puisi “Dengan Puisi, Aku” hanya ada dua citraan yaitu citraan penciuman dan citraan perabaan. Penafsiran puisi “Dengan Puisi, Aku” adalah sepenuhnya bagaimana kita sebagai pembaca puisi dapat memanfaatkan media puisi sebagai media yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan di sekitar kita.

5.      Daftar Pustaka
Mahayana, Maman S. 2005. Sembilan Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing.
Sayuti, Suminto A. 2005. Taufiq Ismail: Karya dan Dunianya. Jakarta: PT Grasindo.
Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Waluyo, Herman J. 2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 komentar:

NikenSN mengatakan...

Terimakasih atas postingannya. Sangat bermanfaat :)