Cerdas Mencerahkan

Selasa, 14 Mei 2013

Mekar Karena Memar Sebuah Novel Psikologi Sastra


Novel Mekar Karena Memar karya Alex Lumban Tobing terdiri atas 151 halaman, pertama kali diterbitkan pada tahun 1959, dan terbitan terakhir yaitu cetakan yang ke sepuluh terbit tahun 2005. Dalam penelitian ini novel yang dijadikan objek analisis adalah novel yang terbitan tahun 2005. Alex Lumban Tobing lahir di Surabaya pada bulan Juli 1934, pengarang ini lahir bukan dari kalangan penulis, tetapi  lahir dari keluarga dokter. Pengarang ini kurang begitu produktif, karena dari data-data yang penulis dapatkan, karya-karya yang dihasilkan pengarang ini hanya novel ini saja, ini dibuktikan dengan tidak ada karya-karyanya yang dihasilkan, baik berbentuk puisi, cerpen, maupun esai.
            Novel yang ditulis Alex Lumban Tobing ini sebenarnya membawa nafas baru dalam dunia kesusastraan Indonesia, baik dalam isi, gaya bahasa, dan persoalan yang diceritakan, baru kini ada yang mengungkap kehidupan mahasiswa Kedokteran dari dekat dan secara khusus. Novel lain yang pernah menyinggung soal dunia Kedokteran umumnya mulai dengan cerita tentang seorang dokter atau karir seorang dokter, tetapi novel Mekar Karena Memar  ini justru menampilkan persoalan yang jarang disinggung dalam buku atau novel-novel lain yang pernah mengambil “Kedokteran” sebagai objek cerita. Disini kita diperkenalkan pada pekerjaan mahasiswa Kedokteran dari dekat, lengkap dengan hal-hal yang umumnya masih tertutup bagi mata umum. Maka novel ini membawa pembaca pada kenyataan hidup dalam dunia Kedokteran. Pembaca seolah-olah dibawa masuk kesudut-sudut tersembunyi di belakang gelar dokter.
            Novel yang diterbitkan Balai Pustaka tersebut memiliki dua judul cerita, yaitu yang pertama “Perkenalan dengan Harga Manusia”, dan cerita yang kedua berjudul “Pudar Menjelang Kilau”. Keduanya mengisahkan sekitar kehidupan para mahasiswa Kedokteran dengan suka dan dukanya. Pada cerita pertama, penulis mencoba menguraikan apa yang sebenarnya berharga pada diri manusia, apakah tubuh lahirnya atau batinnya. Kesimpulannya adalah harga manusia yang utama terletak pada batinnya (semangat, buah pikiran, dan hasil pemikirannya). betapa rendahnya harga jasad orang mati yang diperjual-belikan setelah meninggal dan harga hanya dapat diukur berdasarkan kondisi fisik dari jasad tersebut, yaitu baik atau tidak baiknya kondisi jasad untuk dipergunakan dalam dunia Kedokteran.
 Dalam cerita pertama ini, penulis menggunakan gaya “aku”, diceritakan “aku” sebagai tokoh utama, “aku” adalah mahasiswa Kedokteran yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Lita, Lita adalah mahasiswa sekaligus asisten dokter ahli bedah, tetapi perkenalan dengan Lita diakhiri dengan kesedihan, karena Lita mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia meninggal. Kematian Lita tidak membuat tokoh “aku” putus asa, akan tetapi dengan meninggalnya Lita, tokoh “aku” menjadi lebih semangat untuk melanjutkan cita-cita yang diinginkan Lita, yaitu menjadi dokter ahli bedah. Jika tidak karena Lita, “aku” tidak akan menjadi ahli bedah dan tidak lengkap berkenalan dengan harga manusia, lahir dan batin, seperti kutipan berikut :
“Tahu aku sekarang, andaikan Lita tiada memotong garis hidupku, tak sampai aku jadi ahli bedah. Dan itu tak perlu aku disedihkan. Tetapi satu ini yang pasti kusesalkan, jika tiada karena Lita, aku tak lengkap berkenalan dengan harga manusia, lahir dan lebih-lebih batin.” (MKM, hlm.69).

Selanjutnya dalam cerita Mekar Karena Memar (yang selanjutnya disingkat MKM) yang kedua, bercerita tentang kisah asmara dua mahasiswa Kedokteran yaitu Herman dan Gloria, pada saat itu Herman tiba-tiba mengalami kebutaan yang mengakibatkan ada perubahan sikap yang dialami Herman, walaupun demikian, Gloria tetap mencintai Herman dengan apa adanya. Kebutaan itu mengakibatkan penolakan dan kemelut dari pihak orang tua Gloria. Jerih payah Gloria  dalam mempengaruhi dan mendukung Herman untuk melakukan pengobatan yang akhirnya mata Herman dioperasi. Proses operasi mata Herman dilakukan berkali-kali, tidak menjadikan Gloria patah semangat, yang akhirnya Herman dapat disembuhkan dengan pisau operasi yang dilakukan oleh Gloria sendiri.
Beberapa pertimbangan mengapa novel ini menarik untuk diteliti dengan menggunakan tinjauan psikologi sastra.  Novel ini menarik karena Novel MKM mengandung masalah psikologi yang menonjol terutama permasalahan yang dialami tokoh Herman dan Gloria. Herman mengalami perubahan sikap setelah dia mengalami kebutaan, sebelumnya memiliki sifat yang lemah lembut, dan berubah menjadi kasar, keras, penuh dendam, dan cepat putus asa. Tokoh lain yang paling menonjol mengalami masalah psikologi adalah tokoh Gloria. Gloria adalah kekasih Herman, rasa cintanya kepada Herman begitu besar, sehingga Gloria rela pergi ke Amerika hanya untuk belajar tentang ilmu mata dengan tujuan supaya bisa menyembuhkan penyakit mata yang diderita Herman, dan akhirnya Gloria berhasil menyembuhkan mata kekasihnya dengan operasi yang dilakukannya sendiri. Kuatnya rasa cinta mereka  mampu menguubah sikap manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berat. Jalinan cinta yang dialami tokoh adalah jembatan menuju keberhasilan pengobatan mata.

Tidak ada komentar: