Novel Mekar Karena Memar karya
Alex Lumban Tobing terdiri atas 151 halaman, pertama kali diterbitkan pada
tahun 1959, dan terbitan terakhir yaitu cetakan yang ke sepuluh terbit tahun
2005. Dalam penelitian ini novel yang dijadikan objek analisis adalah novel
yang terbitan tahun 2005. Alex Lumban Tobing lahir di Surabaya pada bulan Juli
1934, pengarang ini lahir bukan dari kalangan penulis, tetapi lahir dari keluarga dokter. Pengarang ini
kurang begitu produktif, karena dari data-data yang penulis dapatkan,
karya-karya yang dihasilkan pengarang ini hanya novel ini saja, ini dibuktikan
dengan tidak ada karya-karyanya yang dihasilkan, baik berbentuk puisi, cerpen,
maupun esai.
Novel yang ditulis Alex Lumban
Tobing ini sebenarnya membawa nafas baru dalam dunia kesusastraan Indonesia,
baik dalam isi, gaya bahasa, dan persoalan yang diceritakan, baru kini ada yang
mengungkap kehidupan mahasiswa Kedokteran dari dekat dan secara khusus. Novel
lain yang pernah menyinggung soal dunia Kedokteran umumnya mulai dengan cerita
tentang seorang dokter atau karir seorang dokter, tetapi novel Mekar Karena Memar ini justru menampilkan persoalan yang
jarang disinggung dalam buku atau novel-novel lain yang pernah mengambil
“Kedokteran” sebagai objek cerita. Disini kita diperkenalkan pada pekerjaan
mahasiswa Kedokteran dari dekat, lengkap dengan hal-hal yang umumnya masih
tertutup bagi mata umum. Maka novel ini membawa pembaca pada kenyataan hidup
dalam dunia Kedokteran. Pembaca seolah-olah dibawa masuk kesudut-sudut
tersembunyi di belakang gelar dokter.
Novel yang diterbitkan Balai Pustaka
tersebut memiliki dua judul cerita, yaitu yang pertama “Perkenalan dengan Harga
Manusia”, dan cerita yang kedua berjudul “Pudar Menjelang Kilau”. Keduanya
mengisahkan sekitar kehidupan para mahasiswa Kedokteran dengan suka dan
dukanya. Pada cerita pertama, penulis mencoba menguraikan apa yang sebenarnya
berharga pada diri manusia, apakah tubuh lahirnya atau batinnya. Kesimpulannya
adalah harga manusia yang utama terletak pada batinnya (semangat, buah pikiran,
dan hasil pemikirannya). betapa rendahnya harga jasad orang mati yang
diperjual-belikan setelah meninggal dan harga hanya dapat diukur berdasarkan
kondisi fisik dari jasad tersebut, yaitu baik atau tidak baiknya kondisi jasad
untuk dipergunakan dalam dunia Kedokteran.
Dalam cerita pertama ini, penulis
menggunakan gaya “aku”, diceritakan “aku” sebagai tokoh utama, “aku” adalah
mahasiswa Kedokteran yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Lita, Lita
adalah mahasiswa sekaligus asisten dokter ahli bedah, tetapi perkenalan dengan
Lita diakhiri dengan kesedihan, karena Lita mengalami kecelakaan yang
mengakibatkan dia meninggal. Kematian Lita tidak membuat tokoh “aku” putus asa,
akan tetapi dengan meninggalnya Lita, tokoh “aku” menjadi lebih semangat untuk
melanjutkan cita-cita yang diinginkan Lita, yaitu menjadi dokter ahli bedah.
Jika tidak karena Lita, “aku” tidak akan menjadi ahli bedah dan tidak lengkap
berkenalan dengan harga manusia, lahir dan batin, seperti kutipan berikut :
“Tahu aku sekarang, andaikan Lita tiada memotong garis hidupku, tak
sampai aku jadi ahli bedah. Dan itu tak perlu aku disedihkan. Tetapi satu ini
yang pasti kusesalkan, jika tiada karena Lita, aku tak lengkap berkenalan
dengan harga manusia, lahir dan lebih-lebih batin.” (MKM, hlm.69).
Selanjutnya
dalam cerita Mekar Karena Memar (yang
selanjutnya disingkat MKM)
yang kedua, bercerita tentang kisah asmara dua
mahasiswa Kedokteran
yaitu Herman dan Gloria, pada saat
itu Herman tiba-tiba mengalami kebutaan yang mengakibatkan ada perubahan
sikap yang dialami Herman, walaupun demikian, Gloria tetap mencintai Herman
dengan apa adanya. Kebutaan itu mengakibatkan penolakan dan kemelut dari pihak orang tua Gloria. Jerih payah
Gloria dalam mempengaruhi dan
mendukung Herman untuk melakukan
pengobatan yang akhirnya mata Herman dioperasi. Proses operasi mata Herman dilakukan berkali-kali, tidak menjadikan Gloria patah semangat, yang akhirnya Herman dapat disembuhkan dengan pisau operasi yang dilakukan oleh
Gloria sendiri.
Beberapa pertimbangan mengapa novel ini menarik untuk diteliti dengan
menggunakan tinjauan psikologi sastra. Novel ini menarik karena Novel MKM mengandung masalah psikologi yang
menonjol terutama permasalahan yang dialami tokoh Herman dan Gloria. Herman
mengalami perubahan sikap setelah dia mengalami kebutaan, sebelumnya memiliki
sifat yang lemah lembut, dan berubah menjadi kasar, keras, penuh dendam, dan
cepat putus asa. Tokoh lain yang paling menonjol mengalami masalah psikologi
adalah tokoh Gloria. Gloria adalah kekasih Herman, rasa cintanya kepada Herman
begitu besar, sehingga Gloria rela pergi ke Amerika hanya untuk belajar tentang
ilmu mata dengan tujuan supaya bisa menyembuhkan penyakit mata yang diderita
Herman, dan akhirnya Gloria berhasil menyembuhkan mata kekasihnya dengan
operasi yang dilakukannya sendiri. Kuatnya
rasa cinta mereka mampu menguubah sikap
manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berat. Jalinan cinta yang
dialami tokoh adalah jembatan menuju keberhasilan pengobatan mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar