Cerdas Mencerahkan

Selasa, 14 Mei 2013

Cerita Pendek Dalam Media Massa Sebuah Penjelajahan Awal


Pembabakan yang dilakukan Ajip Rosidi menyebutkan, periode awal kesusastraan Indonesia tahun 1900-1933, di dalamnya termasuk sastrawan-sastrawan Balai Pustaka. Namun, dalam bukunya yang lain, Ajip berpendapat, bahwa kesusastraan Indonesia lahir sekitar tahun 1920. Sementara Zuber Usman, secara eksplisit mengatakan Zaman Balai Pustaka (1908) sebagai yang mengawali kesusastraan Indonesia modern . Sedangkan Teeuw meski tidak secara tegas menyebutkan Balai Pustaka, ia menunjuk angka tahun 1920 sebagai lahirnya kesusastraan Indonesia Modern.

Benarkah kesusastraan Indonesia modern dilahirkan pada sekitar tahun itu. Menurut Teeuw, “Pada ketika itulah para pemuda Indonesia untuk pertama kali mulai menyatakan perasaan dan ide yang ada pokoknya menyimpang dari bentuk-bentuk sastra Melayu, Jawa dan Sastra lainnya yang lebih tua....”. Sementara alasan Ajip Rosidi, menunjuk tahun itu lantaran pada saat itulah para pemida Indonesia (Yamin, Hatta, dll) mengumumkan sajak-sajak mereka yang bercorak kebangsaan.

Dapat dipahami kedua alasan itu , mengingat keduanya bertumpu pada karya yang dipublikasikan sebagai buku. Akibatnya, karya sastra diluar itu ditiadakan. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: Mengapa karya-karya yang bertebaran di media massa tidak dipandang sebelah mata? Apakah alasan pemakaian bahasa Melayu pasar menjadi salah satu faktor penting untuk menyebut sastra di luar Balai Pustaka sebagai bukan sastra? Inilah bahayanya jika penentuan sastra dan bukan sastra hanya bertumpu pada publikasi buku.

Menjelang berakhir abad ke 19 dan awal memasuki abad ke 20, sedikitnya ada belasan surat kabar dan majalah berbahasa Melayu. Beberapa di antaranya , memuat juga cerita bersambung, cerpen, dan puisi. Majalah Sahabat Baik  (1891) yang terbit di Betawi, misalnya, mencantumkan subjudulnya seperti ini: “Hikayat, tjerita, dongeng, sjair, pantoen, dan lain-lain daripada itu”. Surat kabar Selompret Melajoe (terbit di Semarang, 1860 – 1910) malah sering sekali memuat surat-surat pembacanya dalam bentuk puisi. Cara demikian, ternyata juga kita jumpai dalam majalah  Poetri Hindia (terbit di Bogor, 1908) dan beberapa majalah yang terbit di masa itu. Jika bahasa Melayu pasar yang menjadi alasan , maka majalah Bintang Hindia (1903)  dan Wanita Swara (terbit di Kediri, 1912), harusnya dikecualikan karena ia tidak memakai bahasa Melayu pasar.

Jelas, Teeuw dan Ajip Rosidi secara apriori telah menyimpulkan  kelahiran kesusastraan Indonesia modern hanya berdasarkan karya-karya yang dipublikasikan dalam bentuk buku. Karya yang terbit dalam majalah dan surat kabar telah ditenggelamkan sedemikian rupa. Oleh karena itu pelacakan lebih lanjut mengenai sumbangan media massa itu bagi kesusastraan Indonesia , agaknya merupakan tuntutan yang mendesak. Dengan demikian, pemahaman mengenai periode Balai Pustaka, meski dimaknai sebagai masa menjelang dan awal berdirinya lembaga penerbitan itu.

Popularitas Pujangga Baru bermula dari usaha Takdir, Armijn, Sanusi, dan Amir Hamzah untuk menerbitkan majalah kemudian bernama Pujangga Baru. Lewat majalah inilah, para sastrawan di pelosok tanah air – termasuk dari semenanjung Melayu – mengirimkan karya-karyanya. Beberapa dari kaum terpelajar waktu itu juga menulis di majalah itu. Polemik Kebudayaan  yang dikumpulkan Achdiat Karta Mihardja merupakan bukti sumbangan majalah itu bagi perkembangan kebudayaan dan kesusastraan kita.

Majalah  Pedoman Masjarakat ; sebuah majalah mingguan terbitan Medan (1935 – 1942). Di antara para pengelola majalah itu, tercatat Helmi Yunan Nasution dan Hamka. Pada periode ini, jumlah majalah dan surat kabar yang terbit waktu itu, jauh lebih banyak lagi. Bahkan ada majalah yang khusus memuat cerpen dan cerita roman. Sesungguhnya, majalah seperti itu sudah ada sejak tahun 1923, seperti majalah Tjerita Melajoe (Weltevreden, 1923) Tjerita Pilihan (Bandung, 1924), Tjerita Baroe (Padang, 1924), Tjerita Novel (Bandung, 1930), dan Tjerita Roman (Malang, 1930).

Kini kita perlu mengajukan pertanyaan: Mengapa karya sastra yang bertebarandi media massa akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, tidak dianggap sebagai karya sastra? Mengapa peran penerbit swasta seperti dilihat dengan memejamkan mata?. Gagasan Teeuw, Ajip Rosidi, Zuber Usman dan Umar Junus dalam hal ini, secara apriori telah menyimpulkan kelahiran kesusastraan Indonesia modern dengan mengabaikan fakta social dan peranan yang dimainkan media massa. Cara berpikir yang hanya mendasari pada karya-karya yang dipublikasikan sebagai buku, tidak hanya menenggelamkan cerpen, cerita bersambung, dan puisi yang menempatkan media massa sebagai wadahnya, tetapi juga memutuskan hubungan sastra dengan dunia pers dan membenamkan kontribusi pers dalam perkembangan pemikiran cultural bangsa ini. Karya sastra yang terbit dalam majalah dan surat kabar telah dianggap bukan bagian dari sastra Indonesia. Oleh karena itu pelacakan lebih lanjut mengenai sumbangan media massa bagi kesusastraan Indonesia merupakan tuntutan yang mendesak dan perlu disegerakan.

Sumber Tulisan: ( 9 Jawaban Sastra Indonesia, Maman S Mahayana)

Yogyakarta, April 2013

Tidak ada komentar: